The Compass dan cara saya melihat hidup sehari-hari
Saya suka buku yang setelah selesai dibaca masih kepikiran ketika menjalani aktivitas biasa.
Bukan karena ada satu kalimat yang kelihatan bagus untuk di-highlight, tapi karena tiba-tiba kepikiran,
"Oh, ternyata selama ini saya sering begini."
Kurang lebih itu yang saya rasakan setelah membaca The Compass karya Henry Manampiring.
Buku ini banyak membahas Arete, atau keutamaan, sebagai semacam kompas dalam menjalani hidup. Ada kebijaksanaan, keberanian, keugaharian, dan keadilan. Kedengarannya cukup filosofis kalau dibaca sebagai teori. Tapi buat saya, bagian yang paling menarik justru ketika konsepnya bisa dibawa ke hal-hal yang sangat biasa.
Misalnya soal keputusan.
Sehari-hari kita sering mengambil keputusan berdasarkan apa yang sedang kita rasakan. Lagi malas, ditunda. Lagi kesal, langsung dibalas. Lagi pengin sesuatu, ya dibeli. Lagi takut gagal, akhirnya tidak dicoba.
Padahal belum tentu apa yang kita rasakan saat itu adalah alasan yang bagus untuk mengambil keputusan.
Saya jadi lebih sering berhenti sebentar dan bertanya,
"Kalau saya melakukan ini, apakah memang ini pilihan yang menurut saya benar?"
Pertanyaannya sederhana. Jawabannya kadang tetap tidak jelas. Tapi setidaknya saya tidak langsung mengikuti impuls pertama.
Ini terasa relevan banget di pekerjaan juga.
Relevansi
Sebagai developer, misalnya, ada hari ketika kita melihat code yang berantakan lalu rasanya pengin langsung refactor semuanya. Atau ketika ada bug yang bikin kesal, kita ingin buru-buru memperbaikinya tanpa benar-benar memahami masalahnya.
Kadang yang dibutuhkan bukan respons tercepat, tapi respons yang paling masuk akal.
Bukan berarti setiap keputusan harus dipikirkan sampai berjam-jam. Justru sebaliknya. Buat saya, latihan kecilnya adalah membiasakan diri memberi jeda sebelum bereaksi.
Hal lain yang cukup kena buat saya adalah soal keugaharian.
Menjalani hidup sekarang rasanya gampang sekali membandingkan diri dengan orang lain. Internet membuat kita hampir selalu tahu apa yang orang lain punya. Gadget baru, karier orang lain, pencapaian teman, tempat yang mereka datangi, sampai rutinitas yang kelihatannya jauh lebih produktif daripada punya kita.
Kalau tidak hati-hati, rasanya hidup kita selalu kurang satu tingkat.
Di situ saya merasa konsep "cukup" jadi penting.
Bukan berarti tidak boleh punya ambisi. Saya tetap ingin berkembang, belajar hal baru, punya target, dan memperbaiki hidup. Tapi ada bedanya antara ingin berkembang dengan merasa hidup kita baru akan baik kalau sudah mendapatkan sesuatu.
Saya juga jadi melihat keberanian dengan cara yang sedikit berbeda.
Berani tidak selalu berarti melakukan sesuatu yang besar atau mengambil risiko besar. Kadang berani itu sesederhana mengakui kalau kita salah, mengatakan tidak ketika memang tidak bisa, atau tetap mengerjakan sesuatu yang sebenarnya kita takut hasilnya tidak bagus.
Hal-hal kecil seperti ini mungkin tidak kelihatan keren. Tapi justru di situ saya merasa filsafat jadi dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Kesimpulan
Mungkin itu yang paling saya suka dari The Compass. Bukunya tidak saya rasakan sebagai buku yang memberi daftar cara supaya hidup selalu bahagia.
Kita tetap akan mengalami hari yang jelek, gagal, kecewa, salah mengambil keputusan, atau ketemu keadaan yang memang tidak bisa kita kontrol.
Yang bisa kita latih adalah bagaimana tetap memilih dengan lebih baik ketika hal-hal itu terjadi.
Buat saya, "kompas" di buku ini bukan sesuatu yang langsung membuat kita tahu harus ke mana. Lebih seperti pengingat kecil sebelum mengambil langkah berikutnya.
Kadang kita tetap salah arah. Kadang malah harus putar balik.
Tapi setidaknya kita punya sesuatu yang bisa dijadikan pegangan ketika sedang bingung.
Dan ternyata, untuk kehidupan sehari-hari, itu sudah cukup membantu.
Buku Asli
Buat temen-temen yang tertarik soal pembahasan lebih detail soal konsep Arete, saya sangat menyarankan untuk membaca buku aslinya yang bisa didapatkan di toko buku terdekat.
Dokumentasi
