Tentang Masa Depan yang Belum Terjadi dan Masa Lalu yang Sudah Pergi

Mencoba mengupas khauf dan huzn secara singkat

Uqie Rachmadie

8/17/2026 · 11 min read

Tentang Masa Depan yang Belum Terjadi dan Masa Lalu yang Sudah Pergi

Ada dua hal yang sering membuat kita lelah, meskipun keduanya sebenarnya tidak sedang terjadi.

Yang pertama adalah masa depan. Kita takut gagal, takut salah memilih, takut karier tidak berjalan seperti yang dibayangkan, takut cita-cita yang selama ini dikejar ternyata tidak pernah tercapai.

Yang kedua adalah masa lalu. Kita mengingat keputusan yang salah, kesempatan yang terlewat, percakapan yang seharusnya tidak pernah terjadi, atau pilihan yang sekarang terasa begitu bodoh.

Menariknya, Al-Qur’an sudah membicarakan dua keadaan ini.

Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqamah, tidak ada rasa khawatir pada mereka dan mereka tidak pula bersedih hati.”

QS. Al-Ahqaf: 13

Dalam tafsir Ibn Kathir, bagian فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ dijelaskan sebagai tidak adanya ketakutan terhadap apa yang akan datang, sedangkan وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ berkaitan dengan kesedihan atas apa yang telah berlalu. (Quran.com)

Saya suka cara ayat ini membingkai persoalan. Masa depan membawa khauf. Masa lalu membawa huzn. Dan keduanya bisa membuat kita kehilangan satu-satunya waktu yang benar-benar sedang kita miliki: hari ini.

Kalau begitu, apa yang harus dilakukan?

Saya tidak membaca ayat ini sebagai janji bahwa seorang Muslim yang istiqamah akan selalu mendapatkan hidup sesuai keinginannya.

Justru ayat berikutnya menjelaskan bahwa mereka adalah penghuni surga sebagai balasan atas amal mereka. Konteksnya adalah keselamatan akhirat, bukan jaminan bahwa semua target dunia akan tercapai. (Quran.com)

Ini penting.

Kita bisa belajar sungguh-sungguh dan tetap gagal ujian.

Kita bisa membangun produk dengan serius dan tetap tidak ada yang memakai.

Kita bisa melamar pekerjaan yang kita inginkan dan tetap ditolak.

Kita bisa berusaha memperbaiki diri selama bertahun-tahun dan tetap menghadapi hari-hari yang tidak sesuai rencana.

Islam tidak pernah menjanjikan bahwa ikhtiar adalah mesin untuk mendapatkan semua yang kita mau.

Tetapi Islam tetap menyuruh kita berikhtiar.

Nabi ﷺ bersabda:

اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجَزْ

“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu lemah.”

HR. Muslim, no. 2664. (Sunnah)

Bagi saya, ini semacam framework sederhana untuk mengejar cita-cita.

Cari tahu apa yang bermanfaat.

Kerjakan dengan serius.

Minta pertolongan Allah.

Jangan menyerah hanya karena hasilnya belum kelihatan.

Apakah framework ini menjamin kita berhasil?

Tentu tidak.

Tetapi saya lebih memilih gagal setelah mencoba daripada hidup bertahun-tahun dengan pertanyaan, “Bagaimana kalau waktu itu saya benar-benar mencoba?”

Lalu bagaimana dengan masa lalu?

Di bagian ini hadis yang sama terasa semakin menarik.

Nabi ﷺ melanjutkan agar ketika sesuatu menimpa kita, jangan mengatakan, “Seandainya aku melakukan ini, pasti hasilnya akan seperti itu.” Sebaliknya, beliau mengajarkan untuk mengatakan:

قَدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

“Allah telah menetapkan, dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan.”

Hadis ini bukan berarti kita tidak boleh melakukan evaluasi.

Seorang developer tetap perlu mencari tahu kenapa aplikasinya gagal. Kita tetap perlu bertanya kenapa sebuah keputusan buruk terjadi. Kita tetap perlu belajar dari kesalahan.

Yang perlu dihentikan adalah hidup di dalam versi alternatif dari masa lalu.

“Seandainya saya memilih kampus lain.”

“Seandainya saya mengambil pekerjaan itu.”

“Seandainya saya tidak mengatakan itu.”

Kita tidak punya akses ke branch tersebut.

Yang kita punya hanya keadaan setelah keputusan itu terjadi.

Maka evaluasi, ambil pelajarannya, lalu lanjutkan hidup.

Efisiensi yang aneh dari hidup seorang Muslim

Kalau dipikir-pikir, konsep ini cukup efisien.

Bukan efisien dalam arti hidup menjadi mudah. Justru hidup tetap bisa berantakan.

Tetapi kita punya pembagian kerja yang cukup jelas.

Untuk masa depan, kita punya ikhtiar.

Untuk masa lalu, kita punya penerimaan dan evaluasi.

Untuk hari ini, kita punya amal.

QS. Al-Ahqaf: 13 bahkan merangkumnya dalam satu kata setelah “Rabbuna Allah”:

استقاموا, istiqamah.

Bukan “mereka selalu berhasil.”

Bukan “mereka tidak pernah takut.”

Bukan pula “mereka tidak pernah sedih.”

Tetapi mereka tetap berjalan di jalan yang benar.

Mungkin itu bagian yang sering saya lupakan ketika terlalu sibuk memikirkan hasil.

Saya tidak bisa memastikan apakah cita-cita saya akan tercapai. Saya juga tidak bisa mengubah keputusan yang sudah lewat.

Yang bisa saya lakukan adalah memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki, berusaha pada apa yang masih mungkin dikejar, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Pada akhirnya, mungkin kita memang tidak membutuhkan kepastian tentang masa depan untuk terus berjalan.

Kita hanya perlu cukup yakin bahwa Allah tahu ke mana semuanya berakhir, sementara tugas kita adalah menjalani bagian yang sedang ada di depan mata.

Dan untuk hari ini, itu berarti satu hal sederhana.

Berusaha lagi.